Banyaknya Jenis Beras di Pasaran Pengaruhi Patokan HET

Banyaknya jenis beras yang beredar di pasaran membuat Pemkab Kudus kesulitan menetapkan harga eceran tertinggi. (Sumber: Pemkab Kudus).

Kudus, KUDUSDAILY.COM ** Beragamnya jenis beras yang beredar di pasaran saat ini, khusnya di Kabupaten Kudus sendiri menimbulkan kesulitan tersendiri bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus untuk menentukan dan menetapkan harga eceran tertinggi (het).

Diberitakan laman resmi Pemkab Kudus, kesulitan penetapann HET tersebut karena yang berlaku di pasaran adalah harga pasar sesuai pasokan dan ketersediaan. Hal itu diungkapkan Kepala Seksi Fasilitasi Perdagangan pada Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus, Tedi Hermawan, usai melakukan pantauan harga beras di sejumlah pasar tradisional beberapa waktu lalu.

“Dalam Peratuan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 57 tahun 2017 het beras. Harga hanya ditetapkan berdasarkan jenis medium dan premium. Harga beras premium tertinggi adalah Rp 12.800 per kilogram. Sedangkan harga beras medium tertinggi adalah 9.450 per kiloram,” seperti dikutip laman laman tersebut.

Namun, yang berlaku di pasaran tidaklah demikian. Jika kretria premium dan medium dalam Peraturan menteri perdagangan (Permendag) hanya berdasarkan kadar air dan patahan. Realitasnya banyak faktor yang mempengaruhi perbedaan harga beras.

Tedi mencontohkan dibeberapa pasar tradisional yang ada di Kudus saja, ada beberapa jenis beras yaitu SS (setara IR-64), bramo, mentik wangi, mentik biasa, dan rojolele.

“Beras jenis rojolele, mentik wangi maupun bramo tergolong beras mahal. Meskipun kadar patahannya tinggi, harga beras itu selalu lebih tinggi dibandingkan harga beras SS,” papar Tedi.

Tedi menuturkan, untuk harga beras bramo bisa Rp 10.000 per kilogram. Mentik wangi juga bisa mencampai Rp 11.500 per kilogram. Berbeda dengan jenis beras itu, beras SS harganya lebih murah. Jika mengacu pada Permendag 57/2017, beras premium jenis ini hanya Rp 10.000 per kilogram. Sedangkan beras mediumnya hanya Rp 9.000 per kilogram. Dari hal itulah, harga HET tidak bisa jadi patokan penjualan beras.