Masjid Al Makmur Bernilai Sejarah Tinggi

Masjid Wali dipercaya memiliki kaitan dengan sejarah Arya Penangsang, Adipati Jipang. (Disbudpar Kudus)

Mejobo, KUDUSDAILY.COM ** Masjid Al Makmur di Desa Jepang, Mejobo, Kudus, selain sebagai tempat ibadah masyarakat muslim di Kudus, juga menyimpan nilai sejarah. Bangunan masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Wali itu dipercaya memiliki kaitan dengan sejarah Arya Penangsang, Adipati Jipang.

Dilansir dari laman Disbudpar Kabupaten Kudus, masjid yang dibangun sekitar abad 16 tersebut menjadi sejarah perjalanan spritual Arya Penangsang. Berdasarkan berbagai cerita tutur, tempat berdirinya Masjid Wali merupakan tempat persinggahan Arya Penangsang saat melakukan perjalanan dari kerajaannya menuju tempat Sunan Kudus untuk belajar ilmu agama.

Pengurus Masjid Wali, Fatkhurrohman Aziz mengungkapkan jika daerah tempat masjid tersebut berdiri sekitar abad 16 merupakan daerah rawa yang sangat besar. Di tempat tersebut, Arya Penangsang menambatkan perahunya untuk melanjutkan perjalanan ke kediaman Sunan Kudus.

“Saat Arya Penangsang melakukan perjalanan dari Kadipaten Jipang (daerah Blora) untuk berguru ke Sunan Kudus, perahunya ditambatkan di daerah sini. Di sini dulu merupakan rawa besar.”

Sunan Kudus, mengetahui kebiasaan muridnya itu yang sering beristirahat di daerah itu. Hingga akhirnya Sunan Kudus membangun sebuah masjid sebagai tempat beribadah dan beristirahat sang murid kesayangan.

“Selain sebagai tempat istirahat sambil mengerjakan salat, masjid ini juga dijadikan fasilitas Arya Penangsang untuk menyebarkan ajaran Islam kepada warga Desa Jepang,” lanjutnya seperti dikutip laman tersebut.

Misi Arya Penangsang menyebarkan Islam di daerah itu juga merupakan perintah Sunan Kudus. Masjid tersebut menjadi pusat penyebaran Islam di sekitar kawasan Kecamatan Mejobo, waktu itu.

Masjid peninggalan Sunan Kudus ini, desainnya hampir sama dengan Masjid Attaqwa atau Masjid Menara Kudus. Mulai dari bentuk arsitekturnya maupun yang lain.

“Kesamaan masjid ini yakni terletak pada keempat tiang soko gurunya. Masjid Al Makmur dan Masjid Attaqwa juga mempunyai tiang soko guru. Selain itu juga mempunyai gapura Arya Penangsang,” paparnya.

Di gapura pintu masuk selatan parkir Menara juga ada gapura Arya penangsang. Begitu juga di depan Masjid Wali juga mempunyai gapura Arya Penangsang.

Dia melanjutkan, untuk nama masjid ini memang dahulunya tidak ada yang paham. Sehingga masjid Al Makmur ini disebut dengan julukan Masjid Wali Jepang.

“Karena masjid ini dibangun oleh Sunan Kudus dan Arya Penangsang. Sehingga dinamai Masjid Wali,” tuturnya.

Sementara itu, nama Al Makmur merupakan pemberian ulama dari Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, bernama Sayyid Dloro Ali. Pemberian nama itu sekitar tahun 1917 M atau 1336 H.

“Beliau berkata bahwa bila seseorang atau warga yang memberikan sedekah atau amal jariyah kepada masjid, maka akan bisa makmur dunia akhirat. Sehingga masjid ini diberi nama Masjid Al Makmur,” imbuhnya.