Mahasiswa UMK dan Difabel Buka Peluang Usaha dari Limbah Plastik

Mahasiswa UMK memberikan pelatihan kepada HWDI Kudus untuk membuka peluang usaha dengan memanfaatkan limbah plastik. (Foto: umk.ac.id)

Kudus – Empat mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) melakukan pelatihan dan pendampingan kepada para difabel untuk membuka peluang usaha dengan memanfaatkan limbah plastik. Pedampingan juga dilakukan dalam hal pemasaran, utamanya dalam memanfaatkan e-commerce.

Mahasiswa tersebut adalah Ismawatul Maula, Yusiana Rahma, Arsya Yoga Pratama, dan Fania Dwi Lestari. Mereka membuat program Recycling Plastic Glass Lip Waste (Respect) untuk meningkatkan kemandirian dan entrepreneurship pada anggota Himpunan Wanita Disabilitas Indoensia (HWDI) Kudus. Kegiatan tersebut merupakan realisasi dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) pengabdian masyarakat dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Mereka merupakan mahasiswa Jurusan Sistem Informasi UMK. Sehingga pelatihan untuk pemanfaatan e-commerce akan difokuskan, tentunya diimbangi dengan produk yang berkualitas.

”Kami juga memberikan peralatan pendukung untuk pembuatan kerajinan dari limbah plastik,” kata Ketua PKM Ismawatul Maula dalam portal resmi UMK, Jumat (10/5/2019).

Kegiatan ini, sambung Isma, tercetus ketika melihat banyaknya sampah plastik yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk membuat berbagai kerajinan yang bisa dijual. Sementara sasarannya adalah difabel agar tetap produktif. Ada beberapa tahapan yang dilakukan, anatara lain melakukan sosialisasi tentang limbah plastik, terutama gelas plastik yang bisa dibuat berbagai produk kerajinan.

Selanjutnya dilakukan pelatihan pengelolaan limbah bibir gelas yang bisa dijadikan berbagai bentuk kerajinan, mulai dari gantungan kerudung, tas, hingga songkok. ”Pelatihan pertama sudah kami lakukan awal bulan ini,” terangnya.

Sesuai jadwal, akan dilakukan evaluasi kembali usai lebaran, sehingga pelatihan tidak hanya dilakukan sekali saja, melainkan juga dilakukan beberapa tahap. Sebelum evaluasi, nantinya tetap dilakukan pendampingan. Tak hanya itu, Isma dan kawan-kawan juga memberikan bantuan penunjang kepada HWDI Kudus berupa alat produksi, sehingga memiliki alat bantu atau peralatan yang memadai untuk pembuatan kerajinan tersebut.

Untuk pendampingan tidak hanya berupa pelatihan saja, melainkan juga cara pemasarannya. Karena menurutnya, sebaik apapun produk ketika pemasarannya lemah, produk tidak bisa terserap pasar. Pihaknya melatih untuk pemasaran dengan memanfaatkan e-commerce yang sudah ada, sehingga bisa menjangkau seluruh Indonesia.

“Tentunya ada pelatihan pemasaran khusus melalui e-commerce, karena masih banyak yang belum akrab dengan pemasaran lewat e-commerce. Terakhir, kami lakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari produk hingga pemasarannya. Kami berharap program ini bisa mewujudkan anggota HWDI lebih mandiri dan menjadi entrepreneur,” imbuhnya.