Dorong Wonosoco Jadi Desa Budaya, Bupati Instruksikan Bentuk Lembaga Adat Desa

Bupati Kudus M. Tamzil saat memberikan sambutan dalam acara Prosesi Kirab Budaya Resik-Resik Sendang di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan. (Diskominfo Kudus)

Undaan – Bupati Kudus M. Tamzil menilai desa Wonosoco mempunyai kultur budaya yang kuat dan warga masyarakat yang ikut nguri-nguri melestarikan budaya. Untuk itu, dirinya mendorong ke depan Wonosoco dapat menjadi desa adat dan budaya. Dirinya pun mengintruksikan kepala desa untuk membentuk Lembaga Adat Desa agar dapat mengakomodir segala sesuatu yang berkaitan dengan pelestarian budaya. Semua aspek penunjang juga akan disiapkan melalui APBD perubahan, mulai dari akses jalan menuju desa Wonosoco, penerangan dan publikasi.

“Ke depan akses masuk ke desa Wonosoco akan diperbaiki, dan potensi wisata bisa terpublikasikan dengan baik, sehingga wisatawan yang datang akan lebih banyak,” terang Bupati.

Pada Kamis (27/6/2019), desa yang berada di Kecamatan Undaan Kabupaten Pati ini menggelar Prosesi Kirab Budaya Resik-Resik Sendang Desa. Kirab budaya yang diikuti oleh seluruh perwakilan RT yang ada di Desa Wonosoco tersebut, merupakan salah satu rangkaian kegiatan prosesi bersih-bersih sendang yang akan diadakan selama empat hari.

Kepala Desa Wonosoco Setyo Budi berharap ke depan Desa Wonosoco dapat berkembang menjadi desa wisata, tidak lagi menjadi rintisan desa wisata, yang dapat lebih menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke desa tersebut.

Kriteria Desa Budaya

Sementara itu, menurut Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, secara umum ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi sebuah desa menjadi desa budaya, yaitu memiliki potensi adat tradisi, kesenian, kerajinan, arsitektur dan tata ruang yang masih nyata ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari, dan masyarakat desa di dalamnya berupaya nyata untuk melestarikan dan mengembangkannya.

Tujuan dari desa budaya adalah untuk melestarikan dan mengembangkan potensi adat tradisi, kesenian, kerajinan, arsitektur dan tata ruang agar menumbuhkan jati diri, membentuk citra desa sebagai salah satu penyusun untuk mencapai pusat budaya, serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pengembangan desa budaya juga harus memiliki asas pro budaya, pro lingkungan, dan pro kesejahteraan. Desa budaya sendiri merupakan desa basis bagi pengembangan desa wisata.

Adapun strategi pengelolaan desa budaya yang bisa diterapkan. Pertama, sumber daya manusia, yang bisa diupayakan dengan meningkatkan motivasi, pengetahuan, partisipasi, dan regenerasi warga masyarakat desa budaya untuk mengaktualisasi dan mengonservasi potensi budaya. Kedua, meningkatkan lembaga pengelola desa budaya melalui upaya pengorganisasian yang baik, meningkatkan manajemen dan pengembangan jaringan untuk mengaktualisasi dan mengonservasi potensi budaya. Ketiga, meningkatkan prasarana pendukung desa budaya melalui upaya pendanaan, peningkatan peralatan, peningkatan pemanfaatan informasi, dan perluasan akses untuk mengaktualisasi dan mengonservasi potensi budaya.

Mengangkat Kemandirian dan Kewibawaan Produk Desa Budaya

Di sisi lain, Dosen Senior UGM Rika Fatimah memandang perlunya desa budaya menerapkan model Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur Budaya. G2R Tetrapreneur merupakan gerakan gotong royong wirausaha desa berbasis 4 pilar yaitu rantai (Tetra 1), pasar (Tetra 2), kualitas (Tetra 3), dan merek wirausaha (Tetra 4) untuk mengangkat kemandirian dan kewibawaan produk desa.

Ia menegaskan bahwa desa budaya jangan sampai hanya sekadar untuk budaya saja, namun juga harus dikembangkan kewirausahaannya dengan mengangkat produk unggulan. “Desa budaya tidak hanya menjadi ‘tempat buang sampah’ wisatawan saja, namun UMKM juga harus maju,” katanya.

Rika menyampaikan bahwa kunci dari keberhasilan G2R Tetrapreneur adalah kebersamaaan masyarakat. “Kita itu sukses bareng-bareng, kaya bareng-bareng, maju juga bareng-bareng. Jangan sampai diri sendiri saja yang maju bisnisnya,” urainya.