Tamzil Dorong Kopi Muria Menuju Dunia

Petani kopi Muria dan pelaku usaha kopi beserta stakeholder hadir pada even bertajuk “Kopi Muria Menuju Dunia”, juga disertai lomba uji cita rasa kopi Muria robusta. Foto: kudusnews.com)

COLO, Dawe – Bupati M. Tamzil berupaya memperkenalkan kopi Muria secara luas kepada masyarakat Indonesia bahkan hingga tingkat dunia. Untuk itu, dirinya mendorong petani kopi untuk menciptakan produk unggulan sehingga dapat menembus pasar internasional.

Upaya tersebut akan direalisasikan dengan rencana dibukanya kafe di Desa Colo yang ekslusif menyediakan kopi Muria. Dalam waktu dekat, pihaknya juga akan mengadakan pelatihan wirausaha untuk para barista kopi, sekaligus memberikan modal untuk berwirausaha.

“Makanya kami buat ikon Kudus ‘The Taste of Java’, dalam rangka mengangkat potensi, tidak hanya kretek tapi juga kopi,” ujarnya.

Tamzil melihat cukup banyak budidaya kopi di wilayahnya, untuk itu produk olahan kopi Muria harus semakin digenjot. Ia menyayangkan, sejauh ini banyak relasinya selalu mendengar kopi Muria, namun dijual karungan ke luar daerah hingga akhirnya diklam sebagai kopi khas daerah tersebut.

“Padahal kopi Muria memiliki rasa yang khas dan bisa dikembangkan menjadi ikon Kudus. Mari bersama-sama mengembangkan kopi Muria supaya dapat sejajar dengan jenis kopi nusantara lainnya,” ajak Bupati.

Mengenai potensi kopi di Kudus, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Catur Sulistyo menerangkan, terdapat 621 hektare lahan yang ditanam kopi. Beberapa lahan kopi itu di antaranya ada di Desa Colo, Japan, Ternadi, Kajar, serta Desa Rahtawu dan Menawan.

Dari total lahan tersebut tercatat dikelola oleh 150 petani, di mana sebagian besar menanam kopi jenis robusta. Sedangkan jenis arabika baru ditanam di Dukuh Semliro, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog seluas 11 hektare.

“Ke depan tinggal meningkatkan kualitas kopi Muria, seperti meningkatkan bibit unggul. Sehingga kopi Muria ini bisa dikenal di dunia,” terangnya.

Importir Tertarik Kopi Muria

Misi memperkenalkan kopi Muria di kancah internasional sepertinya sudah mulai mendapatkan lampu hijau. Belum lama ini, importir kopi asal Libya mengincar kopi robusta produksi masyarakat di Desa Colo, Kecamatan Dawe.

Berdasarkan kesaksian Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Koentjen Rejo Maryanto, kedua turis itu bertemu dengan para petani dan melihat langsung kondisi kebun kopi yang terdapat pada kisaran 800 meter di atas permukaan laut, tak jauh dari kompleks Makam Sunan Muria Raden Umar Said.

Salah dan Ashraf, begitu nama keduanya, pada awalnya hanya melihat contoh biji kopi kering dan biji kopi yang telah disangrai di Hotel Graha Muria. Kemudian mereka tertarik untuk mengetahui dari mana asal kopi tersebut.

“Mereka sebenarnya telah tujuh tahun tinggal di Indonesia untuk keperluan studi S2 dan berlanjut S3 di Undip,” jelas Maryanto.

Usai keluar dari hotel, keduanya lalu diantar ke perkebunan kopi rakyat dengan menumpang sepeda motor oleh Maryanto dan Kepala Unit Pelaksana Tugas Daerah (UPTD) Pengelola Objek Wisata Kudus Mutrikah, serta Kades Colo Joni Awang Ristihadi.

“Kedua orang itu terlihat sangat terkesan dengan perkebunan kopi yang telah dikelola penduduk dan menyatakan tertarik dengan kopi Muria,” imbuh Maryanto.