Pencak Dor Pertama Kali Digelar di Kudus

Plt. Bupati Kudus H.M. Hartopo yang membuka kegiatan Pentas Seni dalam rangka HUT ke-37 Pencak Silat NU Pagar Nusa

WERGU WETAN – Pencak Dor atau yang sering disebut Tarung Bebas jarang dipentaskan di Kudus. Pencak Dor tergolong seni tradisi dan olahraga bela diri. Oleh sebab itu, organisasi pencak silat Nahdlatul Ulama yakni Pagar Nusa Kudus ingin mengenalkan lebih jauh sekaligus melestarikan seni tradisi khas Nahdlatul Ulama. Untuk melestarikan Pencak Dor, Pagar Nusa Kudus menggelar Pentas Seni dalam rangka HUT ke-37 Pencak Silat NU Pagar Nusa di Lapangan Merdeka, Minggu (5/1/2020)

Ketua Penyelenggara Pentas Seni, Joni Prabowo menjelaskan bahwa kegiatan ini baru pertama kali digelar di Kudus. Namun demikian, animo peserta tak kalah meriah dibandingkan dengan kegiatan serupa di daerah lain. Ia menyebut, peserta datang dari berbagai wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. “Alhamdulillah, meskipun ini yang perdana di Kudus, namun pendekar yang meramaikan acara datang dari sejumlah daerah,” ujar Joni Prabowo.

Sementara itu, Ketua PCNU Kudus, Asyrofi Masyitoh mengatakan, Pencak Dor dianggap menjadi solusi yang adil untuk menyelesaikan perselisihan tanpa mencederai rasa persaudaraan antar pendekar. Usai bertanding, meski antar pendekar terkadang masih meluap emosinya, panitia langsung mendamaikan. Dapat dikatakan, di atas ring pendekar dapat bertarung sekeras mungkin. Namun, persaudaraan kembali dipupuk setelah semuanya usai. “Di atas ring silakan bertarung sekencang mungkin, tapi di bawah ring ya kembali bersaudara. Biasanya kan anak muda rebutan cewek, maupun persoalan lain, karena kita memiliki tradisi ini ya diselesaikan di pencak dor, ini” ujarnya.

Diutamakan Sikap Rendah Hati dan Menghargai Sesama

Asyrofi Masyitoh menambahkan, seni tradisi Pencak Dor berakar dari Jawa Timur, tepatnya dari Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Sang inisiator adalah KH. Mahrus. KH. Mahrus mencetuskan Pencak Dor pada tahun 1942. Baginya, Pencak Dor merupakan pencak murni dan mengedepankan seni gerakan serta menjadi ajang silaturahmi antar pendekar. “Jadi inisiatornya adalah KH. Mahrus dari Ponpes Lirboyo. Dulu, memang seni tradisi ini sudah terkenal di Jawa Timur,” imbuhnya.

Plt. Bupati Kudus H.M. Hartopo yang membuka kegiatan tersebut mengaku senang semangat anak muda untuk melestarikan budaya. Pihaknya menyatakan anak muda juga harus belajar pentingnya sikap sportif baik itu dalam olahraga maupun dalam kehidupan sehari-hari. “Latihan sportif, ya. Baik itu dalam kegiatan olahraga maupun kehidupan sehari-hari. Jika sportif, maka semuanya akan terasa nyaman dan tanpa beban,” katanya.

H.M. Hartopo juga mengingatkan agar para pendekar atau peserta yang mengikuti kegiatan Pencak Dor tak arogan. Meski memiliki ilmu bela diri dan bahkan telah mengikuti kejuaraan, sikap rendah hati dan saling menghargai antar sesama wajib diutamakan. “Jangan sampai sudah mahir terus menindas lainnya. Ini kita hindari, ciptakan iklim persaudaraan,” pungkasnya.