Pandemi Covid-19 dan Semangat Gotong Royong ala BKM

Kontribusi BKM Desa Bae di masa pandemi Covid-19. BKM DESA BAE

Semenjak Covid-19 mewabah di tengah masyarakat, dampak negatif yang ditimbulkan cukup mempengaruhi semua sendi kehidupan. Masyarakat berpenghasilan rendah sangat cepat merasakan keterpurukan, akibat susahnya lapangan pekerjaan dan terseok-seoknya roda perekonomian.

Selalu ada jalan keluar dalam setiap masalah. Selalu ada hal menarik dalam setiap penyelesaian masalah. Berhadapan dengan situasi sulit ini, beberapa lembaga pro-kemiskinan desa atau yang kebih dikenal dengan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) di Kabupaten Kudus, seperti Desa Bae, Kedungsari, Kirig, Hadiwarno, Kramat, dan Mlati Lor mengadakan kegiatan sosial yang bertujuan meringankan beban masyarakat.

Kegiatan yang dipilih pun bermacam-macam. Tapi umumnya, banyak yang memerlukan pembagian paket bahan pokok dan masker.

Hal berbeda dilakukan BKM Kramat Mandiri Desa Kramat. Warga tidak mengadakan kegiatan bagi-bagi sembako, tapi melakukan program penundaan pembayaran angsuran pinjaman bagi KSM Pinjaman Bergulir yang terdampak wabah Covid-19. Lin Sulistyani, Koordinator BKM, menceritakannya kepada saya.

Biasanya, untuk melaksanakan kegiatan pembagian bahan pokok, BKM tidak bekerja sendiri, tapi bekerja sama dengan kelompok relawan yang tergabung dalam wadah Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) sosial di masing-masing desa.

Selain untuk kepentingan sosial, ada upaya untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa eksistensi BKM masih ada. Sejak awal berdirinya, BKM merupakan partner masyarakat miskin yang ingin berkembang menjadi lebih baik.

Cerita dari Bambang Gusti, Koordintor BKM Sejahtera Bae, untuk sasaran kegiatan bantuan sosial (bansos) di Bae diberikan secara langsung kepada anggota KSM pinjaman bergulir yang masih terdampak wabah Covid-19. Tidak semua angota KSM Pinjaman bergulir mendapatkan paket sembako. Tujuannya, memberikan pembelajaran kepada KSM yang macet agar sadar, lantas kembali mengangsur.

Mashuri, Koordinator BKM Jogorekso Desa Kirig, menuturkan, di tempatnya, kegiatan bakti sosial (baksos) dilakukan dengan dua cara, yaitu mengundang warga penerima manfaat yang sehat untuk datang ke lokasi bantuan dengan memperhatikan protokol kesehatan, yaitu menggunakan masker dan duduknya berjarak, serta diserahkan langsung ke penerima yang sakit.

Kegiatan bansos mendapat apresiasi pelbagai pihak, di antaranya Kepala Desa Kirig, Slamet Shodiq. Selain mengapresiasi, ia berharap, bisa dicontoh pihak lain, baik kelompok atau individu untuk memiliki kepedulian di tengah wabah.

Sumber Dana

Kiprah BKM terbilang sudah lama. Dari awal dibentuknya BKM di tengah masyarakat mulai tahun 2000 sampai sekarang, ada tiga pilar inti kegiatan yang harus dilaksanakan agar program kerja yang berhubungan dengan permasalahan di masyarakat—kemiskinan dan kekumuhan—bisa teratasi, yaitu kegiatan lingkungan, sosial, dan pinjaman bergulir.

Sejak berdirinya BKM di 86 Desa di Kabupaten Kudus, dana stimulan diberikan Pemerintah Pusat berupa dana bantuan langsung masyarakat secara bertahap. Rata-rata BKM mendapatkan 3-4 kali bantuan dana stimulan. Dari sekian banyak, diambil 30 persen untuk modal pinjaman bergulir dan masih berjalan sampai sekarang.

Alokasi dana bantuan kegiatan lingkungan untuk pembangunan infrastruktur, seperti jalan, jembatan, drainase (selokan dan gorong-gorong), Tempat Pengelolaan Sampah (TPS), talud, sarana air bersih, dan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Alokasi kegiatan sosial, dana bantuan digunakan untuk pelatihan, modal alat usaha, dan penambahan asupan gizi.

Setelah era Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)-Perkotaan berakhir pada tahun 2014, tidak semua BKM mendapatkan bantuan stimulan dari pemerintah. BKM terbaiklah yang mendapatkan bantuan dengan mekanisme seleksi dari Kementerian Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Kegunaan dana pun hanya untuk kegiatan infrastruktur lingkungan. BKM Sejahtera Bae, misalnya, pada 2019, mendapatkan dana Rp1 miliar.

Untuk pembiayaan bansos kali ini, semua BKM menggunakan dana dari laba pinjaman bergulir yang masih berlangsung. Samsul Hadi, Koordinator BKM Mlati Lor, mengungkapkan, pembiayaan bansos untuk 70 paket sembako murni dari laba pinjaman bergulir, bukan dari bantuan pemerintah langsung, seperti waktu pendampingan PNPM dulu.

BKM, sejak berdiri hingga sekarang, untuk menjalankan fungsi dan perannya di tengah masyarakat telah banyak didampingi berbagai program dari pemerintah, khususnya Kementerian PUPR, seperti program penanggulangan kemisminan (P2KP, PNPM) dan program pengentasan kawasan kumuh (P2KKP, KOTAKU).

Hal ini menegaskan bahwa berdirinya BKM bukan asal-asalan, tapi suatu bentuk keseriusan pemerintah dalam rangka mendorong partisipasi aktif dan kemandirian masyarakat untuk mengatasi persoalan di wilayahnya.