Pelajar SMK di Kudus Bangkitkan Gairah Kesenian melalui Pentas Teater

Para penonton tengah menyaksikan pertunjukan teater dari SMK Duta Karya Kudus. DOKUMENTASI PRIBADI/Tsania

KUDUS | Pelajar di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Duta Karya Kudus punya cara sendiri untuk merawat kearifan lokal tembang macapat. Mengingat hari ini tembang macapat dinilai sangat berjarak dengan para pelajar atau generasi muda.

Naskah yang bertajuk “Layang Bandang” sendiri ditulis secara kolektif oleh para pelajar sekaligus aktor dalam pementasan yang berlangsung pada Sabtu-Senin (14-16/5/2022) di Gedung Serba Guna, SMK Duta Karya Kudus.

Menurut Faruq selaku salah satu guru di SMK Duta Karya menyampaikan, bahwa pementasan teater yang membawa pesan diharapkan dapat menghargai dan mengenalkan kearifan lokal. Teruta yang terkait dengan Jawa.

‚ÄúSelain itu, diharapkan para pelajar jadi lebih mengapresiasi budaya dalam negeri,” imbuhnya.

Setelah berpuasa selama beberapa tahun, akhirnya extrakurikuler Teater Apotek dari SMK Duta Karya Kudus ‘berhari raya’ dari absennya pementasan teater selama pandemi. Dengan isu yang diangkat yaitu kearifan lokal dan bencana alam. Sutradara pentas, Jesy Segitiga menuturkan naskah ini cukup relevan dipentaskan meski ditulis oleh adik-adik pelajar sebagai program ektrakurikuler Teater yang dipinggawainya.

“Naskah yang digagas para pelajar ini adalah wahana exploratorium bagi mereka. Yang kemudian menawarkan masalah-masalah kebudayaan, sosial, dan ekonomi sehingga menyebabkan bencana massal,” tandasnya.

Para aktor dari pelajar SMK Duta Karya Kudus yang tengah mementaskan teater dengan tajuk “Layang Bandung”. DOKUMENTASI PRIBADI/Tsania

Ia juga menambahkan, bahwa sudah seyogyanya para guru atau generasi tua mengapresiasi keberanian serta memberi ruang para pelajar untuk bersenang-senang sekaligus mengutarakan gagasan dengan pementasan naskah yang digarap secara kolektif.

“Kita seringkali lupa melihat proses seluruhnya. Dengan memberi ruang dan mengapresiasi keberanian adik-adik pelajar, kedisiplinan mereka mulai tumbuh, tanggung jawabnya mulai tumbuh, kerja samanya mulai tumbuh sehingga mereka lebih kritis terhadap banyak hal. Jadi itu yang diharapkan. Setelah naskah itu jadi dan dipentaskan, kita memberikan mereka kesempaan untuk merefleksi dan merenungkan nilai-nilai yang mereka suarakan. Karena di beberapa tempat di Kudus, keberanian pelajar membuat naskah dan mementaskannya ini sudah mulai pudar.” pungkasnya.